Mencoba “Daun Muda” Asli Sunda

0
821
views

Kita mungkin sama-sama sepakat bahwa cewek sunda itu cantik-cantik. Saya sepakat akan hal itu sejak lama, tapi sekarang saya lebih sepakat lagi. Ini pertama kali saya bermukim agak lama di tanah pasundan. Mengelilingi satu kecamatan di kabupaten Bogor, dari desa ke desa lainnya. Banyak sekali saya temui cewek-cewek cantik, tentunya penduduk asli sini. Masih muda tapi tidak jarang sudah menyandang status janda.

8 Mei lalu saya ke desa Malasari Kabupaten Bogor, yang sudah saya tulis pada tulisan sebelumnya. Saya tidak akan membahas “Daun Muda” sesuai ekspektasi anda, tapi yang menarik perhatian saya ketika kami dihidangkan makan siang. Prasmanan. Saya melihat ada beberapa menu, ada ayam kremes, karedok, teri, kerupuk. Dan yang menarik adalah nampan dengan tumpukan daun.  Lalapan namanya.

Di jawa timur kita juga mengenal lalapan, kita juga tau bahwa orang sunda suka lalapan. Tapi saya belum pernah makan lalapan versi orang sunda. Yang saya tau lalapan yang biasa saya makan di warung pecel lele atau penyetan pada umumnya. Biasanya ada kol, kacang panjang, daun kemangi. Tentunya mentah.

Di sunda lebih ekstrim, saat makan siang itu saya tidak mengambil nasi. Saya Cuma ambil satu potong ayam, satu sendok teri, dan karedok. Kalau yang belum tau karedok itu semacam salad, kalau tidak tau salad mirip gado-gado atau rujak. Semua sayurannya mentah, dikasih bumbu kacang, seger. Di ujung meja ada 2 macam daun saat itu. Saya bingung mau ambil atau tidak. Saya dipaksa nyoba sama temen dari Sucofindo. Oke deh ambil dikit.

Daun Muda, Poh-pohan Dan Reundeu

Saat makan saya melihat orang-orang yang begitu lahapnya makan dedaunan itu. Saya bertanya cara makannya bagaimana. Mereka menjawab ya dimakan aja pak, katanya. Saya pun coba makan dua daun itu satu persatu, yang satu sensasinya ada rasa mintnya, dan satu lagi agak sepat. Macam makan daun jambu rasanya. Saya suka.

Saya mulai bereksperimen mencoba memakannya seperti ketika makan makanan korea. Saya ambil selembar daun, saya tambahkan teri, karedok, dan ayam. Lalu saya bungkus dan saya makan. Enak. Segar. Saya pun mulai menikmati makanan enak ini. Dan yang paling penting saya yakin ini sehat.

Sambil makan saya bertanya apa nama daun tersebut, yang ada rasa mintnya namanya poh-pohan. Dan yang agak sepat namanya Reundeu. Saya tidak tau betul kandungan gizi kedua daun itu tapi yang pasti ada klorofil yang bagus sebagai anti oksidan.

Formasi Lengkap Lalapan Sunda

Hari berikutnya kami makan siang di warteg.  Warteg disini beda. Ngikutin keinginan pasar, disediakan dedaunan untuk lalapan. Lebih lengkap pula. Ada  kol, poh-pohan, petai, leunca. Leunca itu buah kecil, rasanya ada asam agak pahit. Dan semuanya gratis kecuali petai. Sukanya lagi, di warung-warung disini minuman standarnya adalah teh tawar. Jadi kalau kita tidak pesan minuman spesifik pasti akan dikasih teh tawar hangat. Gratis dan bisa nambah, disediakan refill di meja makan. Kemarin waktu ke rumah kepala desa Malasari juga dikasih minumnya teh tawar. Teman-teman yang dari jawa timur tidak suka, saya aja yang girang dikasih teh tawar. Karena memang lagi mengurangi konsumsi gula.

Saya suka dengan daun-daun muda khas sunda ini. Saya jadi tertarik pengen nyobain “Daun Muda” Asli sunda beneran. Enak gak ya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here