Membiayai Kuliah Dari Batu Nisan

0
402
views
Mauliddin Irwansyah Saat Produksi Batu Nisan

Saya selalu senang melihat mahasiswa yang berusaha mandiri. Minimal bisa cari uang jajan dengan sambilan. Entah itu berdagang atau kerja part time, yang jelas bukan nyambi short time.

Namanya Mauliddin Irwansyah, cukup keren namanya untuk anak muda dari pelosok desa. Dia berasal dari kecamatan Klampis, Bangkalan. Setidaknya nama kerennya itu cocok dengan wajahnya yang cukup ganteng, lebih ganteng dari saya sedikit.

Mauliddin ini mahasiswa Teknik Informatika tahun ketiga. Ditahun kedua kuliah dia harus ditinggalkan Bapaknya. Meninggal. Sedih. Sempat ingin putus kuliah, merasa tidak mampu dengan beberapa mata kuliah dan ingin bekerja melanjutkan usaha yang ditinggalkan almarhum bapaknya. Saat dia mengutarakan niatnya saya berusaha memotivasinya. mendorong supaya tidak putus kuliah. Kalau merasa tidak mampu dengan materi-materi kuliah minimal tahu teknik-teknik menyontek. Ya, saya sarankan begitu. Setidaknya itu tidak lebih buruk dari putus kuliah.

Akhirnya dia bertekad untuk melanjutkan kuliah. Dengan membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. Dengan melanjutkan usaha dari almarhum bapak tercinta. Usahanya tergolong unik. Tapi ya begitulah usaha, harus unik. Semakin sulit direplikasi semakin panjang usia pasarnya.

Menjual batu nisan. Itu usaha yang dilanjutkannya. Tidak banyak yang beli, tapi juga tidak banyak yang menggeluti usaha ini. Untungnya lumayan. Sekali produksi membutuhkan harga bahan 250 ribu rupiah. Tidak menghitung biaya tukang, karena dia kerjakan sendiri. mengaduk semen, mencetak dan sebagainya. Dengan biaya produksi itu menghasilkan 3 sampai 4 pasang batu nisan. Harga jualnya bervariasi 150 ribu rupiah sampai 450 ribu rupiah. Selain batu nisan, maulidin juga menjual kijingan. Untuk kijingan harganya berkisar 600 ribuan. Sangat miring dibandingkan dengan harga pasaran di Surabaya yang berkisar 1,2juta.

“Untuk kijingan saya tidak produksi pak, saya kulakan. Gak cukup waktu untuk produksi karena sambil kuliah”, kata Maulidin pada saya. Semua harga batu nisan dan kijingan bervariasi sesuai bahan, ukuran dan modelnya. Jadwal produksinya tidak tetap, tergantung request. Jika nisan ready pembeli bisa langsung bayar dan membawa pulang. Jika minta model dan bahan spesifik harus pre order. Biasanya dia produksi saat tidak ada jam kuliah, tidak sibuk tugas, atau bahkan malam hari. Dia juga punya tagline promosi “Ayo investasi untuk rumah abadi”.

Disela-sela kesibukannya itu Maulidin masih bisa kopdar dengan teman-temannya. Anak motor. Sesekali ketemu dengan saya kalau lokasi kopdarnya di tempat biasa saya ngopi. Dari hasil usaha warisan almarhum bapaknya itulah dia membiayai hidup dan kuliahnya, sesekali membiayai hobi motornya. “Cukup” katanya, saat saya bertanya apakah cukup hasil usahanya itu untuk biaya kuliah.

Mauliddin Masih Sempat Menjalankan Hobinya Disela-sela Menjalankan Usaha dan Kuliahnya

Saya mendoakan semoga usahanya lancar, Mauliddin tertawa, saya mengerti tawanya itu. Saya langsung menimpali “Kalau usahamu lancar berarti banyak orang mati” sambil tertawa juga. “Tidak pak, doa saya bukan banyak orang mati. Tapi berdoa banyak orang yang ingin mengganti batu nisan keluarganya yang sudah meninggal saja”.

Saya tau usia usahanya itu panjang. Karena akan selalu ada orang mati. Bukankah hal yang paling pasti didunia ini adalah kematian? Lanjutkan usahamu lek, lanjutkan juga kuliahmu. Kelak kesuksesan bukan didapat dari nilai mata kuliahmu, tapi dari kegigihan usahamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here