Luka Tak Berdarah Ditinggal Nikah

2
461
views

    Ahmad Munsharif (Ayek)

 

Panggilannya Ayek, dia mahasiswa saya semester akhir, sudah menyusun skripsi. Saya tidak tertarik dengan status dan prosesnya sebagai mahasiswa. Dia akrab dengan saya, meskipun dia pernah mengambil mata kuliah yang saya ampu dia tetap memanggil saya dengan panggilan “mas“. Ya, dia bukan mahasiswa satu-satunya yang memanggil saya dengan sebutan itu, karena saya memang biasa akrab dan biasa ngopi dengan mahasiswa terutama yang menyandang gelar aktifis.

Sekitar 2 minggu lalu dia mendatangi saya di tempat biasa saya ngopi. Saat itu wajahnya tidak terlihat sedang baik-baik saja, setelah dia memesan minuman saya bertanya kenapa terlihat murung. Dan benar dugaan saya, dia sedang galau. Mungkin secara psikologis memang orang yang sedang galau butuh teman bicara dan mudah mengungkapkan isi hatinya.

Dia mulai bercerita dengan suara sayup bahwa dia ditinggal nikah oleh kekasihnya, bahkan dia mengungkapkan tidak pernah ada kata putus diantara mereka dan tiba-tiba dapat undangan dari kekasihnya. Tentu mempelai prianya bukan Ayek.

Saya biarkan dia melanjutkan ceritanya saat menyobek undangan dari kekasihnya itu. Saya tertawa lepas, bukan bermaksud mengejeknya. Hanya lucu saja saya mendengar dia menceritakan kisahnya itu pada saya yang tidak hanya sekali mengalami itu. Tidak ada yang bisa saya perbuat untuk membantunya selain memperkuat mentalnya. Pernikahan sudah terjadi tidak mungkin digagalkan. Untuk menguatkannya saya menceritakan kisah saya beberapa kali ditinggal oleh perempuan, saya sedikit mendramatisir untuk menambah kesan bahwa apa yang ia alami saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kisah saya. Tujuannya supaya dia terbangun lagi mentalnya yang saya yakin saat itu hancur berkeping-keping.

Ayek ini tergolong mahasiswa yang berprinsip dan idealismenya masih tinggi. Bahkan penilaian saya dia ini termasuk mahasiswa yang siap bergelut, beradu fisik jika idealismenya diinjak-injak. Namun, cinta memang tidak hanya sebagai titik motivasi tapi juga dapat menjadi titik lemah seseorang. Dan saat ini Ayek sedang lemah.

Setelah saling berbagi cerita yang dibumbui nasehat-nasehat sok dari saya, sebagai pamungkas saya menanamkan bahwa cara balas dendam terbaik adalah sukses. Saya menyarankan supaya dia tidak membuang-buang energi terlalu banyak untuk sesuatu yang sudah tidak bisa diselamatkan. Saya minta dia untuk fokus pada skripsinya yang lebih penting untuk keberlanjutan masa depannya, saya bilang ke Ayek “setelah selesai nanti kamu bisa bekerja atau lanjut S2 untuk membuktikan bahwa kamu bisa sukses”. Bahkan lebih sukses dari suami sang kekasih yang telah meninggalkannya. Meskipun saya tau ketika dia sukses nanti dia pasti sudah lupa dengan peristiwa luka tak berdarah itu.

Minggu ini saya dapat kabar yang menenangkan, Ayek rupanya sudah seminar proposal skripsi, tentu masih panjang proses penelitiaannya namun itu adalah perkembangan yang positif. Kita tidak pernah tau jarak antara jatuh ke bangkit, bisa satu, dua, atau selamanya. Semoga jalan suksesmu lancar lek.

2 COMMENTS

  1. Ya Allah mulia sekali penulis ini,semoga kebaikan selalu menyertainya amin. Serta semoga dikuatkan iman dan mental dari “Ayek” ini amiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here