Kekeringan Memaksa Mereka Kembali Ke Teknologi Tarik Tambang

0
408
views
Warga Sekitar Saat Mengambil Air dengan Cara Menarik Tambang dan Timba

Terhitung setengah bulan saya tidak pulang ke rumah di kampung. Hari ini saya pulang, mumpung libur. Meskipun cuma sehari di rumah. Saat masuk dari jalan raya ke jalan desa saya, sangat terlihat kemarau mengeringkan segalanya. Biasanya sepanjang perjalanan sejauh 3 km mata saya di sambut dengan hijaunya rerumputan, atau tanaman jagung saat musim. Bisa juga padi saat musim penghujan.

Kekeringan ini sudah berlangsung lama sebenarnya. Dari bulan mei lalu sampai bulan ini (oktober), setidaknya itu menurut BMKG. Tapi akhir-akhir ini lebih terasa musim kemaraunya. Panas di siang hari begitu menyengat, beberapa daerah di Madura yang agak susah mata air kekeringan. Di rumah saya tidak termasuk daerah itu. Tapi dua minggu ini di desa saya mulai merasakan ganasnya kemarau tahun ini. Beberapa sumur sudah “kalah”.

Di desa saya banyak sekali sumur, tidak ada PDAM disini. Satu sumur bisa digunakan 5-15 kepala keluarga. Dulu orang-orang biasanya mengambil air dengan menggunakan timba. Lumayan, karena di sini sumur berkisar 20-25 meter dalamnya. Saat sudah ada listrik dari PLN orang-orang sudah mulai berpindah menggunakan pompa air. Seperti sumur di rumah saya ini, setidaknya ada 7 kepala keluarga yang pompa airnya tertanam disitu. Begitupun sumur-sumur yang lain di sekitar.

Saat sumur-sumur yang lain timba dan “kerekan” katrolnya dilepas karena orang-orang sudah menggunakan pompa air di rumah saya tidak. Tetap disediakan “kerekan” karena ada 1 tetangga yang ambil airnya masih belum menggunakan pompa.

Dua minggu terakhir sumur-sumur disekitar “kalah” tidak bisa diambil airnya. Orang-orang harus ambil air dengan cara manual. Kembali ke zaman sebelum ada pompa air. Menarik tambang yang ada timbanya. Sumur di rumah saya jadi sasaran, karena sumur sekitarnya sudah kalah. Bahkan mereka harus antri untuk menunggu giliran menarik tambangnya. Dan sumur saya pun mulai menipis persediaan airnya, karena banyak dari tetangga jauh yang ikut ambil air disitu. Sementara supply air dari sumbernya melambat dan yang mengambil air semakin banyak. Keluarga saya harus mengalah. Tidak menyalakan pompa di siang hari. Menyalakannya di malam hari saja saat orang-orang tidak mengantri. Besok sumur itu mau digali lagi, dibersihkan dan diperlebar sumber mata airnya.

Untuk menggali dan memperbesar lubangnya tidak bisa menggunakan bor. Harus manual. Ada orang yang turun untuk menggali sumur dengan kedalamam sekitar 25 meter itu. Tujuannya agar sumur tidak kalah. Supaya tetangga tetap tersupply airnya. Begitupun kebutuhan air keluarga saya.

Kemarau ini memberikan dampak kekeringan bagi sebagian daerah. Tapi mendatangkan keberkahan bagi saudara-saudara kita di daerah lain. Di Pamekasan dan Sumenep misalnya. Mereka yang menanam tembakau saat ini bahagia, hasil panen tembakau mereka bagus, semoga harganya juga bagus dan tidak lagi tipu-tipu para tengkulak. Begitupun dengan saudara-saudara kita yang bertani garam. Mereka juga bersyukur dengan terik kemarau tahun ini. Proses pembuatan emas putih itu akan lebih cepat dan lebih bagus hasilnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here