Berkunjung Ke Desa Penghasil Emas

0
604
views
MEGAH: Balai Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor

Hari ini, Selasa 8 Mei 2018 saya harus mengunjungi salah satu desa di kabupaten Bogor, Jawa barat. Kunjungan ini tidak saya lakukan sendiri, melainkan bersama tim surveyor dan beberapa orang dari PT Sucofindo dalam rangka FGD (Focus group discussion) untuk social maping yang dibutuhkan oleh PT ANTAM (Aneka Tambang). Tujuan dari social maping ini untuk mengetahui kondisi saat ini dan harapan masyarakat sekitar Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor pasca tambang ditutup kelak.

Jam 06.30 kami bergerak dari basecamp di perumahan PT Antam di kawasan desa Kalong Liud kecamatan Nanggung. Tujuh orang tim dan diantar satu driver kami menuju desa Malasari yang jaraknya sekitar 22 km dengan jalan yang berkelok dan beberapa titik tidak beraspal. Perjalanan ini berat, karena beberapa kali kami harus turun dari mobil ketika melewati tanjakan curam tanpa aspal. Mobil yang kami tumpangi tidak bisa naik tanjakan curam, Mungkin karena mobil tersebut berpenggerak roda depan sehingga roda depan susah mendapat grip saat ditanjakan curam tanpa aspal dengan tujuh penumpang.

Perjalanan menuju desa Malasari kami tempuh dengan waktu kurang lebih dua jam. Sempat berhenti beberapa kali, bahkan tim kami ada yang mabuk dan muntah di pertengahan jalan karena kondisi jalan yang lebih banyak off road.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan yang menarik khas pegunungan dengan udara yang sejuk. Jalanan sempit dan sepi. Hutan masih lumayan lebat, karena sebagian besar wilayah desa Malasari masuk dalam kawasan hutan konservasi taman nasional Gunung Halimun.

Sesampainya di balai desa Malasari kami disambut oleh Kepala Desa dan Perangkatnya. Balai desanya bagus, terdapat dua lantai. Baru dibangun sepertinya. Ini balai desa yang megah untuk ukuran desa yang terpencil dengan akses menuju kesana yang cukup sulit. Di lantai dua balai desa terdapat aula yang mampu memuat 40an orang lebih. Di ruangan ini kami sudah ditunggu masyarakat desa sebagai peserta FGD.

Di sela-sela pengisian quisioner saya sempat melontarkan pertanyaan kepada sekretaris desa Malasari. Sekdesnya perempuan, yang juga anak dari kepala desa. Saya iseng bertanya nominal APBDes tahun ini. Tiga Milyar lebih katanya. Waw, ini besar. Setidaknya kalau dibandingkan dengan desa-desa di Madura yang rata-rata APBDesnya satu milyar. Lanjut saya Tanya sumber-sumber APBDesnya, saya kira Pendapatan Asli Desanya yang besar, ternyata PAdesnya cuma 17 juta.

Wajar kalau APBDes Malasari ini besar, karena dari Dana Desa saja dapat 1,5 Milyar lebih. Belum lagi ADD (alokasi dana desa) dari kabupaten dan lain sebagainya. Semestinya desa dengan APBDes sebesar itu sudah menjadi desa maju. Tapi Malasari masih tergolong Desa berkembang, bahkan cenderung miskin.

Desa Malasari yang berpenduduk kurang lebih 8000 orang ini juga luas. Daerah administratif Malasari memiliki luas sekitar 8000 ha. Tapi sebagian besar daerahnya masuk dalam kawasan hutan konservasi gunung halimun. Dan sebagian lagi masuk daerah tambang emas PT Antam. Jadi desa Malasari ini masuk dalam ring 1 kawasan pertambangan emas. Bisa dibilang Malasari adalah desa penghasil emas, tapi mahalnya emas belum dirasakan berdampak besar bagi masyarakat desa.  Hal itu tidak butuh analisa yang dalam, saya sudah bisa menyimpulkan dari sejak perjalanan menuju Malasari. Sarana pendidikan juga minim. Hanya ada 6 sekolah dasar 1 SMP terbuka, dan 1 SMA terbuka. Kalau mau sekolah ke SMA negeri atau SMA bonafit jauh jaraknya.

Dulunya, sebagian masyarakat desa Malasari juga berprofesi sebagai PETI (Penambang Emas Tanpa Izin). Ilegal. Tapi saat ini sudah tidak ada, sudah ditertibkan. Tapi diluar itu semua, Desa Malasari adalah desa yang sangat berpotensi untuk jadi desa maju. Anggap saja potensi wisata, kalau digarap dengan baik dan pemerintah kabupaten membangun infrastruktur menuju kesana maka banyak sekali lokasi wisata yang bisa dikomersilkan.

Malasari juga sebagian daerahnya adalah perkebunan teh swasta, tentu itu adalah potensi wisata. Malasari punya belasan air terjun yang eksotis. Punya sungai yang panjang yang bisa jadi objek tubing atau arung jeram. Malasari juga punya sawah yang cukup menarik pandangan mata dengan system irigasi terasering. Dan masih punya banyak spot untuk lokasi swafoto anak-anak zaman now. Tinggal poles aja.

Sebelum kami pulang saya sempat diskusi tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mereka. Untuk wisata sudah mulai jalan ticketing, selanjutnya yang akan diperkuat BUMDes Pengelolaan air bersih. Dan sebagainya. Saya sarankan supaya BUMDesnya sebagai holding saja. Agar tidak ribet ngurus campur aduk.

Semoga Malasari dapat secepatnya menjadi desa maju, sejahtera masyarakatnya. Dan saya yakin itu akan terjadi. Mereka punya potensi luar biasa, punya funding yang besar juga, punya modal sosial masyarakat peduli akan masadepan desanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here