Beliau Belum Berhenti Membimbing Kami

0
268
views
Dr Suryono S.Si., M.Si Bersama Rekannya Dari Jerman di Laboratorium Kesayangannya

Nada notfifikasi di handphone saya berbunyi. Seketika saya langsung membuka handphone. Kali aja ada ajakan ngopi. Apalagi aktifitas seorang jomblo selain ngopi bersama teman-teman?

Saat membuka whatsapp sedikit terkejut. Rupanya ada pesan dari Dosen pembimbing tesis semasa kuliah S2 dulu. Isi pesannya pun bukan ajakan ngopi, melainkan lampiran file PDF disertai pesan teks “Bom ini buku saya boleh disebar luaskan ke mahasiswamu untuk kepentingan non komersial”. Segera saya download dan buka file lampiran itu. Sekilas saya baca judulnya “Teknologi Sensor” tentu saya hanya baca judulnya saja. Saya harus membalas isi pesan dosen saya itu. “Siap pak, terimakasih banyak. Kebetulan saat ini home base saya di teknik elektro”.

Seketika saya terlibat percakapan yang penuh bimbingan dari beliau. Beliau meminta saya untuk siap-siap dengan penelitian. Saya menyampaikan kepada beliau “Pak, saya belum punya Tulang Ikan seperti yang bapak ajarkan dulu”. Jawab beliau “Baca buku saya, nanti arahnya akan ke wireless sensor network atau internet of things“. Tulang ikan merupakan gambar kerangka penelitian berkelanjutan versi dosen saya itu.

Beliau adalah Dr. Suryono, SSi., MSi. Dosen sekaligus ketua program studi Magister Sistem Informasi Universitas Diponegoro Semarang. Bagi sebagian besar mahasiswa pascasarjana program studi sistem informasi, beliau begitu disegani. Tidak jarang mahasiswa yang ciut nyalinya untuk ketemu beliau. Di mata saya beliau orang yang sederhana, tidak menakutkan, tapi saya takdzimi. Pak Sur, kami memanggilnya. Beliau sangat antusias dengan ilmu teknologi informasi. Padahal keilmuan beliau adalah dalam bidang Fisika instrumentasi.

Semasa kuliah dulu, saya bersama 3 orang rekan yang selalu bimbingan tesis bareng-bareng ke beliau. Ali Bardadi dari Palembang, Bapak Aripin dari Pontianak dan Wibowo H Sugiharto dari Jepara. Kami diberi waktu untuk bimbingan 2 hari dalam seminggu. Hari Rabu dan hari Sabtu. Ya, hari sabtu beliau masih menerima bimbingan yang notabene itu hari libur tapi pak Sur menghabiskan hari Sabtunya di laboratorium kampus Undip Tembalang. Sepertinya pak Sur gatal tangannya kalau nganggur. Kalau sehari saja tidak berkutat dengan micro processor. Dengan Solder.

Pernah. Suatu kali saya ikut jadwal bimbingan. 3 orang rekan saya siap dengan naskah revisian tesisnya. Saya sendiri tidak membawa naskah tesis. Biasanya kami bergantian bimbingan. Saat tiba giliran saya pak Sur bertanya “Mana tesismu bom?”. Saya sambil cengengesan menjawab “Gak bawa pak. belum selesai revisiannya”. “Terus kamu kesini ngapain?” lanjut tanya pak Sur “Absen pak, absen muka. setidaknya saya ikut hadir saat temen-temen proses bimbingan”. Beliau tidak marah, malah tersenyum sambil geleng-geleng kepala “Kamu itu berani banget ngadep saya tanpa bawa naskah tesis? Mahasiswa yang lain loh mau ketemu saya takut” lalu dilanjut bercanda seisi ruangan tersebut.

Selama beberapa bulan kami rutin setiap rabu dan sabtu. Hampir tidak pernah jeda jadwal. Pak Sur pun sepertinya tidak ada beban menghadapi kami. Mungkin kami berempat yang durasi bimbingannya paling lama. Kadang sambil ngopi. Kadang juga kami diberi tugas mengajari mahasiswa D3 dan S1 dalam menyelesaikan masalah skripsinya. Tidak jarang juga kami ditraktir makan oleh beliau. Sering sekali. Beliau sadar betul bahwa mahasiswa miskin dan terlantar dipelihara oleh dosennya. Saya masih ingat betul dialog pak Sur ketika kita disodorkan menu oleh pelayan warung, “Jangan malu-maluin saya ya…saya gak mau bayarin kalian cuma habis 300 ribu. Harus lebih. Malu saya kalo bayar habis sedikit” Canda sombongnya disambut tawa kami.

Berkat bimbingan dan dorongan pak Sur ini kami berempat mampu menyelesaikan kuliah kami dengan masa studi 3 semester. Ya, 4 orang itu lulus 3 semester. Tidak hanya sampai disitu, beliau juga mengharuskan kami mengikuti internasional confrence dengan makalah dari tesis kami. Sampai saat ini beliau masih jadi panutan kami. Terutama rekan-rekan yang kemudian seprofesi dengan beliau. Beliau belum berhenti membimbing kami, mendorong kami terus meneliti. Saya rindu wejangan-wejangan beliau, mulai dari wejangan hidup, akademik, diskusi seputar dunia aktifis. Saya rindu menunggu antrian bimbingan di taman rindang halaman Laboratorium Fisika. Saya rindu ditraktir lagi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here