Aku Berhenti, Tak Ada Lagi #HanyaSajak

0
457
views

Mungkin sebagian dari teman yang mengikuti saya di sosial media, baik twitter, facebook, instagram, path, bahkan di whatsapp familiar dengan hastag #HanyaSajak.

Saya sendiri memulai belajar menulis sajak sejak 2011. Saat itu dalam kondisi terpuruk. Kondisi itu banyak memberikan pelajaran buat saya, mulai dari cara bersikap, cara pandang hidup, memperlakukan orang, tidak terkecuali saya juga dapat mulai belajar merangkai kata menjadi rima yang kemudian jadilah sebuah sajak.

Saya sendiri tidak tahu pasti sejak kapan menggunakan hastag (tagar) HanyaSajak di setiap sajak yang saya publish di sosial media. Tapi kemudian itu menjadi ciri khas bagi saya, untuk sajak-sajak saya dimata teman-teman.

Banyak sekali yang menyarankan untuk menulis sajak-sajakku ke dalam sebuah buku. Tapi saya tidak berminat untuk itu. Saya merasa belum cukup pandai mengolah kata menjadi sebuah buku.

Saya terus bersajak, meskipun itu hanya saya publish di media sosial. Inspirasinya bisa dari mana saja, bisa dari pengalaman pribadi, pengalaman teman, atau apapun yang saya lihat dan apapun yang terlintas dipikiran saya.

Akhir-akhir ini saya merasa tidak enak dengan sajak-sajak itu. Mungkin beberapa dari teman-teman ada yang copy paste sajak saya untuk direpost di akun sosmednya, atau dikirim kegebetannya, dan sebagainya. Saya tidak bermasalah dengan itu. Yang membuat saya merasa tidak nyaman, sepertinya beberapa sajakku seringkali membuat sebagian orang tersinggung, merasa baper, atau mungkin marah membaca sajak yang saya publish.

Sebut saja sajak ini “Kelak ceritakan pada anak-anakmu, bahwa pernah ada yang begitu merindui ibumu tapi tidak pernah ditakdirkan menjadi ayahmu #HanyaSajak”. Sajak ini tentu tidak masalah dibaca orang lain. Tapi jika dibaca orang yang lagi dekat dengan saya, atau orang yang naksir sama saya (ngarep) akan membuat hati mereka terenyuh dan menganggap saya belum move on dari masa laluku.

Dengan sajak itu bisa jadi orang yang ingin dekat denganku mundur teratur. Atau yang sudah dekat denganku memilih kabur. Sangat bisa. Dan sepertinya itu yang saya alami.

Begitupun sajak saya yang lain, seperti “Temukan cinta yang lain. Kelak jika kau dibuat main-main, kau akan mengingatku yang pernah bersusah payah membuatmu yakin #HanyaSajak”. Orang bisa saja menafsirkan sajak itu ungkapan biasa saja tapi berbeda mungkin jika yang membacanya orang yang pernah dekat denganku, sebut saja mantan. Mereka bisa berasumsi sajak itu adalah sebuah dendam, sebuah ucapan “rasakan sakitnya kau menyakitiku” yah itu sah-sah saja, karena sudah wilayah tafsir. Dan masih banyak sajak-sajak yang lain yang berpotensi membuat orang lain tersakiti.

Berkaca dari hal itu dan kejadian-kejadian yang telah lalu maka saya mempertimbangkan untuk berhenti bersajak. Setidaknya berhenti mempublish. Saya lebih baik berhenti berkarya kalau ternyata karya itu menyakiti sebagian orang. Memang saya tidak bisa membuat semua orang menyukaiku tapi setidaknya aku berusaha supaya mereka tidak membenciku.

Saya pun sempat meminta pertimbangan kepada teman-teman di sosmed. Saya melakukan polling di instagram, WA dan sosmed lainnya. Sebagian memilih untuk berhenti bersajak, tapi sebagian besar meminta untuk melanjutkan. Setelah saya pertimbangkan dengan matang saya memutuskan berhenti saja. Mungkin itu mengecewakan bagi yang vote “lanjut”.

Polling di Instagram yang saya lakukan beberapa waktu lalu

Maka dari itu sejak saat ini saya tidak akan lagi mempublish sajak dengan tagar #HanyaSajak. Bukan berhenti menulis hanya berhenti mempublish. Sampai kapan? Saya tidak tahu. Sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya juga tidak tahu kalau punya inspirasi sajak mau ditulis dimana, karena selama ini memang langsung saja dipost di sosmed.

Terkait sajak-sajak yang sudah terpublish tentu tidak mungkin saya hapus. Jika ada yang merindu silahkan saja cari dengan tagar #HanyaSajak.

Sekali lagi mohon maaf bagi semua. Saya undur diri, sejak saat ini saya tidak lagi mempublish sajak dengan tagar tersebut. Entah sampai kapan.

Penutup dari saya

Sepeninggalmu, sajak-sajakku tak lantas mati. Aku menyimpannya dalam peti, beberapa menjelma menjadi puisi #HanyaSajak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here